Gurano Babintang. Begitu penduduk lokal menyebut sosok besar yang dikenal dengan nama whaleshark atau hiu paus. Bukan mamalia, ia adalah jenis ikan terbesar di dunia. Dinamakan Gurano Babintang, hiu ini punya kulit abu- abu setebal 2 mili meter, dengan corak bintang di sekujur tubuhnya.
Hamparan laut di sebuah desa tepian teluk cendrawasih, Papua menjadi tempat bernaung ikan raksasa. Benar- benar raksasa, karena ikan ini punya panjang 7 hingga 20 meter, sebanding dengan ukuran satu bus yang dapat mengangkut 48 penumpang!
Inilah surga bagi para pecinta kehidupan bahari, yang berada di desa Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua. Meski masuk dalam golongan hiu, raksasa ini hanya memangsa plankton dan ikan- ikan kecil.
Seolah tak terpengaruh dengan hadirnya para penyelam yang tak henti berdecak kagum memandanginya, atau tak luput mengabadikan kehadirannya, mereka asyik menjaring ikan- ikan kecil di sekitar bagan nelayan, memenuhi lambung besarnya.
Hiu paus mengembara di samudera tropis dan lautan beriklim hangat. Raksasa ini mampu bertahan hidup hingga usia 70 tahun. Konon hiu jenis ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun lalu. Mereka adalah spesies ikan yang tinggal di lautan dalam. Teluk cendrawasih ini memiliki kedalaman hingga ribuan meter. Tapi tak harus menyelam dalam untuk bertatap muka dengannya, karena mereka rajin ke permukaan untuk menyantap makanan berupa ikan segar yang terhidang.
| Whale Sharks at Kwatisore |
Perjalanan menuju desa Kwatisore, ditempuh menggunakan perahu motor selama dua hingga tiga jam dari kota Nabire. Sebelumnya, kami harus melalui perjalanan udara menggunakan maskapai Susi Air selama satu jam dari Biak, Papua. Beruntung, karena ikut dengan rombongan menteri, saya bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Biak, Papua menggunakan pesawat pribadi carteran. Semalaman saya bisa merebahkan badan di kursi pesawat yang nyaman dan lapang, disertai hidangan yang tak habis- habisnya ditawarkan oleh pramugari :p
Alternatif lainnya, anda bisa terbang menggunakan maskapai Garuda menuju Jaya Pura, lalu melanjutkan perjalanan dengan maskapai Susi Air menuju Nabire. Maskapai Lion Air juga menyediakan penerbangan langsung dari Jakarta ke Nabire, dan transit di Jaya Pura.
Pukul 10 pagi waktu setempat. Saya sudah dapat menceburkan diri, siap bercengkrama dengan teman- teman baru saya, si hiu paus! ☺ Pertama kali melihat makhluk raksasa ini, napas saya tercekat. Apalagi dengan mulut besarnya, ia datang menghampiri saya tanpa basa- basi. Jantung saya langsung berdetak kencang saat seekor hiu paus berada tepat di depan wajah saya.
| Man vs Whale Shark |
yang datang sehari sebelumnya hanya bertemu satu ekor hiu paus saja. Tapi harus hati- hati saat menyelam dengan kawanan hiu paus. Teluk cendrawasih yang menjadi sarang nyamannya adalah laut dalam, dengan kedalaman yang tak diketahui. Tak ada hamparan karang atau pun dinding koral yang biasa menjadi acuan
penunjuk arah bagi penyelam. Sepanjang mata memandang hanya ada kebiruan laut. Karena itulah buoyancy atau daya apung yang baik saat menyelam, mutlak diperlukan jika tak ingin terseret arus ke dasar laut.
Jika tak ingin atau tak punya sertifikat menyelam, cukup dengan snorkeling atau berenang di permukaan saja anda bisa langsung bercengkrama dengannya. Tapi sebagai penggila hewan laut, saya tentu tak ingin menghabiskan satu detik pun untuk hanya terengah- engah mengambil napas di permukaan.
Tak terasa satu jam lebih saya sudah mengambil gambar makhluk ini dengan kamera mungil saya. Udara di tabung yang saya gendong pun semakin habis. Saatnya kembali ke daratan untuk makan siang sambil menunggu satu kali lagi penyelaman.
Empat tahun lalu, gurano babintang dianggap warga sekitar sebagai hantu laut. Raksasa seberat sekitar 20 ton ini hilir-mudik di perairan Kwatisore hampir sepanjang tahun. Padahal di tempat lain seperti kepulauan Bahama misalnya, hiu ini hanya ditemui di waktu-waktu tertentu.
Sejak Oktober 2010 sampai sekarang, World Wide Foundation (WWF) pun mengadakan survei keberadaan hiu paus di kawasan ini secara berkala. Penelitian ini melibatkan warga lokal untuk memantau pergerakan hiu paus. Ini pulalah yang mendorong datangnya wisatawan yang ingin berkunjung langsung melihat hewan langka ini. Terbukalah peluang sektor pariwisata di desa terpencil ini. Warga menikmatinya dengan sukarela.
Askhak, pemilik bagan ikan kecil yang saya temui, mengaku tak keberatan dengan keberadaan hiu paus ini. Meski ia harus merelai ikan kecil yang menjadi mata pencahariannya dilahap si ikan raksasa. Tak mengapa, banyak wisatawan datang, rupiah pun mengalir, membawa berkah menurutnya. Memang sudah menjadi kewajiban operator selam untuk membayar kompensasi pada nelayan, jika ada penyelam yang datang. Pengunjung riang, warga pun senang. Namun karena masuk dalam wilayah konservasi, ada sejumlah aturan bagi turis yang ingin berkunjung. Di antaranya tak boleh menyentuh langsung hiu paus, dan pastikan berenang minimal 2 meter dari sang hiu. Jika sudah berjumpa dengannya, dijamin sang raksasa ini dengan mudah akan membuat anda jatuh cinta!
Liputan hiu paus dapat dilihat di program Indonesia Morning Show, Net TV. Video dan reporter : Frianti Ishana. https://www.youtube.com/watch?v=YFk1liXODN0