Thursday, September 15, 2016

Melahirkan Itu Nyaman.. :)

Birth Story of Kaia Alleandra Bimastianto

Akhirnya mencoba untuk merangkai kata tentang birth story anak pertama kami.
Yah.. gimana pun juga proses kelahiran adalah proses sakral yang cuma terjadi sekali seumur hidup, jadi emang harus diabadikan dalam sebuah tulisan :D

So, here’s the story…

Sebagai wanita, dari dulu yang tertanam di benak saya bahwa melahirkan itu sakit. Saya yang kadar toleransi sakit-nya sangat rendah ini merasa proses melahirkan itu adalah momok yang menakutkan. Bahkan dulu pernah terbesit di benak saya, jauh sebelum saya menikah, kalau lebih baik punya anak adopsi saking takutnya saya untuk melahirkan (forgive me God, I was so stupid!)

Gimana nggak, dari semua film, sinetron or tayangan TV yang saya tonton, sampai cerita orang2, proses melahirkan digambarkan sebagai pertarungan hidup dan mati wanita, penuh drama jeritan dan tangisan. Jadi, belum apa- apa saya sudah nyerah duluan.

Tibalah saya menikah dan hamil. Hamil pertama saya memang tidak berjalan mulus. Janin tidak berkembang setelah usia 3 bulan, lalu terpaksa harus dikuret.
Lima bulan kemudian, Allah kembali menganugerahi janin di rahim saya, yang benar- benar saya syukuri dan saya jaga.

Sampai saatnya saya siap mencari informasi mengenai proses melahirkan.
Yang saya cari pertama justru bagaimana biar bisa melahirkan tanpa rasa sakit. Anastesi berupa epidural atau ILA lah jawabannya. Sayangnya (yang kemudian saya koreksi menjadi “syukurlah”), metode ini tidak populer di kota saya. Padahal teman- teman saya yang melahirkan di kota- kota lain dan di luar negeri sangat merekomendasikannya.

Tapi dalam hati juga saya sempat berpikir, “apa iya melahirkan semenakutkan itu sampai- sampai harus menggunakan obat bius. Toh manusia dan mamalia lain sudah melalui proses ini sejak dunia ini ada?”

Dan hasil gooling membawa saya ke metode hypnobirthing, dan Alhamdulillah saya berjodoh dengan bidan NenyRahmawati yang saat itu akan membuka kelas hypnobirthing di usia kehamilan saya yang memasuki 33 minggu.

Ternyata hypnobirthing adalah salah satu metode pemberdayaan diri dalam Gentle Birth, yakni menerima kodrat tubuhmu dan kehendak bayimu untuk bisa lahir ke dunia dengan penuh kelembutan dan minim trauma.

Prenatal Yoga, latihan rileksasi hypnobirthing, latihan di gym ball, rebozo, jalan pagi, mengonsumsi makanan yang dianjurkan, berenang, dan berdoa pada Allah Tuhan semesta alam adalah pemberdayaan diri yang saya lakukan selama hamil untuk mendapatkan persalinan Gentle Birth yang saya idam- idamkan.

Bukan berarti semua berjalan semulus itu. Di usia kandungan 39 minggu, dokter kandungan saya mengecek posisi janin yang semestinya sudah turun dan mengunci di panggul, saat itu masih jauh di atas panggul. “Ah ini sih masih lama. Nanti cek 40 minggu semoga air ketuban masih bagus jadi gak perlu induksi,” katanya.

Saya sempat merasa down, selama ini yang saya lakukan masa tidak ada hasilnya? Bukan ga mau sabar  nunggu, tapi ibu saya sudah jauh- jauh datang dari Bandar Lampung, sudah di sini selama 2 minggu dan sudah mulai gak sabar menanti kapan cucunya lahir. Itu salah satu yang jadi kegalauan saya kala itu, haha.

Tapi ternyata proses kelahiran itu memang tak ada ilmu pastinya. Tidak ada patokan bayi pasti lahir pas HPL, proses bukaan pasti berapa jam, janin belum masuk panggul pasti masih lama lahirnya. Dua hari kemudian, tanda- tanda persalinan itu muncul.

Sabtu, 9 April 2016. Usia kandungan 39W2D.

Pagi, yoga seperti biasa.
Siang, ikut suami ke bazar kantor, masih belum terasa mulas, masih cengar cengir juga ditanya orang- orang kapan lahiran :D
Malam, mulai terasa perut kencang dan kram. Belum curiga kalau itu gelombang cinta karena selama ini belum pernah merasa kontraksi palsu. Tapi masih dibawa jalan ke mall.
Jam 21.00, entah kenapa kepingin sekali makan duren. (entah benar atau ga, ini mungkin salah satu induksi alami yang berhasil buat saya).
Jam 22.00 gelombang cinta makin intens. Dibawa yoga, streching2 ringan, rebozo, dan maenan Gym ball.
Jam 24.00 mencoba tidur tapi gak bisa. Dengerin aplikasi Kontraksi Nyaman dari bidan Yessi Aprilia.

Minggu 10 April 2016

Jam 02.00, Mulas makin menjadi- jadi. Bangunin suami, dia bilang besok aja ke RSnya, paling juga masih bukaan 2, nanti disuruh balik lagi. Kenapa dia bisa bilang gitu? Karena saya belum keluar lendir darah yang menjadi salah satu tanda persalinan.
03.00, makin ga tahan di kasur, bergerak sesering mungkin, mandi, dengerin musik biar rileks.
03.30 Seiring mules yang makin aduhai, darah mengalir deras. Langsung bangunin suami dan ibu saya, langsung ke rumah sakit. Karena Ibu saya belum siap2, dia bilang nanti saja dia nyusul. Toh, katanya, biasanya pasti masih lama.
04.30 di UGD RS, ternyata sudah bukaan 5, diajak dansa sama suami. Lumayan bikin rileks.
05.00 Proses CTG di ruang observasi. Masih bisa ngobrol bercanda dengan bidannya. “Pantes masih bisa tenang, sering yoga dan ikut kelas hypnobirthing ya,”
 05.30 Merasa sudah seperti ingin mengejan. Pindah ke ruang bersalin, bukaan 8. Atur- atur posisi duduk dan berbaring yang nyaman sambil menunggu Obgyn datang.
-->Saat itu hari minggu pagi, suasana ruang bersalin sangat tenang, cuma ada saya, suami dan 2 bidan, ga ada pasien lain yang jerit2 dan teriak2, persis seperti apa yang saya visualisasikan sebelumnya.
06.30 Bukaan lengkap, dokter datang.

06.58 Alhamdulillah lahirlah putri cantik kami “Kaia Alleandra Bimastianto", dengan penuh senyum dan kelembutan. Saking ga nyangka akan secepat itu, barang- barang di mobil bahkan baru diturunin pas saya sudah bukaan lengkap! ;)


Nah kan, ternyata proses lahiran memang rahasia Yang di Atas.  Ga ada patokan pasti bahkan dari dokter sekali pun. Tinggal gimana kita mau memberdayakan diri dan memasrahkan diri ketika semua usaha sudah kita lakukan. Proses persalinan yang nyaman ini semua bisa saya dapatkan karena keingintahuan saya selama hamil, dan kemauan saya memberdayakan diri untuk mendapatkan itu :) . 




Monday, November 3, 2014

Raksasa di Tepian Teluk Cendrawasih


Bak raksasa yang menari gemulai di birunya laut. Sosok besar hitam itu menghampiri, mengajak para penyelam bercengkrama di pelukannya. Tak perlu takut dengan si bongsor ini, ia akan menyapa ramah para pendatang dari berbagai penjuru, yang ingin berkenalan dekat dengannya. 

Gurano Babintang. Begitu penduduk lokal menyebut sosok besar yang dikenal dengan nama whaleshark atau hiu paus. Bukan mamalia, ia adalah jenis ikan terbesar di dunia. Dinamakan Gurano Babintang, hiu ini punya kulit abu- abu setebal 2 mili meter, dengan corak bintang di sekujur tubuhnya. 

Hamparan laut di sebuah desa tepian teluk cendrawasih, Papua menjadi tempat bernaung ikan raksasa. Benar- benar raksasa, karena ikan ini punya panjang 7 hingga 20 meter, sebanding dengan ukuran satu bus yang dapat mengangkut 48 penumpang! 

Inilah surga bagi para pecinta kehidupan bahari, yang berada di desa Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua. Meski masuk dalam golongan hiu, raksasa ini hanya memangsa plankton dan ikan- ikan kecil. 

Seolah tak terpengaruh dengan hadirnya para penyelam yang tak henti berdecak kagum memandanginya, atau tak luput mengabadikan kehadirannya, mereka asyik menjaring ikan- ikan kecil di sekitar bagan nelayan, memenuhi lambung besarnya. 

Hiu paus mengembara di samudera tropis dan lautan beriklim hangat. Raksasa ini mampu bertahan hidup hingga usia 70 tahun. Konon hiu jenis ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun lalu. Mereka adalah spesies ikan yang tinggal di lautan dalam. Teluk cendrawasih ini memiliki kedalaman hingga ribuan meter. Tapi tak harus menyelam dalam untuk bertatap muka dengannya, karena mereka rajin ke permukaan untuk menyantap makanan berupa ikan segar yang terhidang.


Whale Sharks at Kwatisore
   
Perjalanan menuju desa Kwatisore, ditempuh menggunakan perahu motor selama dua hingga tiga jam dari kota Nabire. Sebelumnya, kami harus melalui perjalanan udara menggunakan maskapai Susi Air selama satu jam dari Biak, Papua. Beruntung, karena ikut dengan rombongan menteri, saya bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Biak, Papua menggunakan pesawat pribadi carteran. Semalaman saya bisa merebahkan badan di kursi pesawat yang nyaman dan lapang, disertai hidangan yang tak habis- habisnya ditawarkan oleh pramugari :p 

Alternatif lainnya, anda bisa terbang menggunakan maskapai Garuda menuju Jaya Pura, lalu melanjutkan perjalanan dengan maskapai Susi Air menuju Nabire. Maskapai Lion Air juga menyediakan penerbangan langsung dari Jakarta ke Nabire, dan transit di Jaya Pura. 

Pukul 10 pagi waktu setempat. Saya sudah dapat menceburkan diri, siap bercengkrama dengan teman- teman baru saya, si hiu paus! ☺ Pertama kali melihat makhluk raksasa ini, napas saya tercekat. Apalagi dengan mulut besarnya, ia datang menghampiri saya tanpa basa- basi. Jantung saya langsung berdetak kencang saat seekor hiu paus berada tepat di depan wajah saya. 


Man vs Whale Shark
Untungnya, ia cuma mengajak bercanda sembari berenang ke permukaan dan melahap ikan- ikan kecil itu dengan mulut besarnya. Ketakutan itu perlahan sirna, terganti dengan perasaan kagum memandangi sekelompok ikan bertotol ini. Dua, tiga, hingga tujuh jumlahnya, saya menghitung. Kali ini kami memang beruntung, penyelam sebelum kami 
yang datang sehari sebelumnya hanya bertemu satu ekor hiu paus saja. Tapi harus hati- hati saat menyelam dengan kawanan hiu paus. Teluk cendrawasih yang menjadi sarang nyamannya adalah laut dalam, dengan kedalaman yang tak diketahui. Tak ada hamparan karang atau pun dinding koral yang biasa menjadi acuan 
penunjuk arah bagi penyelam. Sepanjang mata memandang hanya ada kebiruan laut. Karena itulah buoyancy atau daya apung yang baik saat menyelam, mutlak diperlukan jika tak ingin terseret arus ke dasar laut. 


Jika tak ingin atau tak punya sertifikat menyelam, cukup dengan snorkeling atau berenang di permukaan saja anda bisa langsung bercengkrama dengannya. Tapi sebagai penggila hewan laut, saya tentu tak ingin menghabiskan satu detik pun untuk hanya terengah- engah mengambil napas di permukaan. 

Tak terasa satu jam lebih saya sudah mengambil gambar makhluk ini dengan kamera mungil saya. Udara di tabung yang saya gendong pun semakin habis. Saatnya kembali ke daratan untuk makan siang sambil menunggu satu kali lagi penyelaman. 

Empat tahun lalu, gurano babintang dianggap warga sekitar sebagai hantu laut. Raksasa seberat sekitar 20 ton ini hilir-mudik di perairan Kwatisore hampir sepanjang tahun. Padahal di tempat lain seperti kepulauan Bahama misalnya, hiu ini hanya ditemui di waktu-waktu tertentu. 

Sejak Oktober 2010 sampai sekarang, World Wide Foundation (WWF) pun mengadakan survei keberadaan hiu paus di kawasan ini secara berkala. Penelitian ini melibatkan warga lokal untuk memantau pergerakan hiu paus. Ini pulalah yang mendorong datangnya wisatawan yang ingin berkunjung langsung melihat hewan langka ini. Terbukalah peluang sektor pariwisata di desa terpencil ini. Warga menikmatinya dengan sukarela. 

Askhak, pemilik bagan ikan kecil yang saya temui, mengaku tak keberatan dengan keberadaan hiu paus ini. Meski ia harus merelai ikan kecil yang menjadi mata pencahariannya dilahap si ikan raksasa. Tak mengapa, banyak wisatawan datang, rupiah pun mengalir, membawa berkah menurutnya. Memang sudah menjadi kewajiban operator selam untuk membayar kompensasi pada nelayan, jika ada penyelam yang datang. Pengunjung riang, warga pun senang. Namun karena masuk dalam wilayah konservasi, ada sejumlah aturan bagi turis yang ingin berkunjung. Di antaranya tak boleh menyentuh langsung hiu paus, dan pastikan berenang minimal 2 meter dari sang hiu. Jika sudah berjumpa dengannya, dijamin sang raksasa ini dengan mudah akan membuat anda jatuh cinta! 
Liputan hiu paus dapat dilihat di program Indonesia Morning Show, Net TV. Video dan reporter : Frianti Ishana. https://www.youtube.com/watch?v=YFk1liXODN0