Birth Story of Kaia
Alleandra Bimastianto
Akhirnya mencoba untuk merangkai kata tentang birth story
anak pertama kami.
Yah.. gimana pun juga proses kelahiran adalah proses sakral
yang cuma terjadi sekali seumur hidup, jadi emang harus diabadikan dalam sebuah
tulisan :D
So, here’s the story…
Sebagai wanita, dari dulu yang tertanam di benak saya bahwa
melahirkan itu sakit. Saya yang kadar toleransi sakit-nya sangat rendah ini
merasa proses melahirkan itu adalah momok yang menakutkan. Bahkan dulu pernah
terbesit di benak saya, jauh sebelum saya menikah, kalau lebih baik punya anak
adopsi saking takutnya saya untuk melahirkan (forgive me God, I was so stupid!)
Gimana nggak, dari semua film, sinetron or tayangan TV yang saya
tonton, sampai cerita orang2, proses melahirkan digambarkan sebagai pertarungan
hidup dan mati wanita, penuh drama jeritan dan tangisan. Jadi, belum apa- apa
saya sudah nyerah duluan.
Tibalah saya menikah dan hamil. Hamil pertama saya memang
tidak berjalan mulus. Janin tidak berkembang setelah usia 3 bulan, lalu
terpaksa harus dikuret.
Lima bulan kemudian, Allah kembali menganugerahi janin di rahim saya, yang benar- benar saya syukuri dan saya jaga.
Sampai saatnya saya siap mencari informasi mengenai proses
melahirkan.
Yang saya cari pertama justru bagaimana biar bisa melahirkan
tanpa rasa sakit. Anastesi berupa epidural atau ILA lah jawabannya. Sayangnya
(yang kemudian saya koreksi menjadi “syukurlah”), metode ini tidak populer di kota
saya. Padahal teman- teman saya yang melahirkan di kota- kota lain dan di luar
negeri sangat merekomendasikannya.
Tapi dalam hati juga saya sempat berpikir, “apa iya
melahirkan semenakutkan itu sampai- sampai harus menggunakan obat bius. Toh
manusia dan mamalia lain sudah melalui proses ini sejak dunia ini ada?”
Dan hasil gooling membawa saya ke metode hypnobirthing, dan
Alhamdulillah saya berjodoh dengan bidan NenyRahmawati yang saat itu akan membuka kelas hypnobirthing di usia kehamilan
saya yang memasuki 33 minggu.
Ternyata hypnobirthing adalah salah satu metode pemberdayaan
diri dalam Gentle Birth, yakni
menerima kodrat tubuhmu dan kehendak bayimu untuk bisa lahir ke dunia dengan
penuh kelembutan dan minim trauma.
Prenatal Yoga, latihan rileksasi hypnobirthing, latihan di gym ball, rebozo,
jalan pagi, mengonsumsi makanan yang dianjurkan, berenang, dan berdoa pada
Allah Tuhan semesta alam adalah pemberdayaan diri yang saya lakukan selama
hamil untuk mendapatkan persalinan Gentle
Birth yang saya idam- idamkan.
Bukan berarti semua berjalan semulus itu. Di usia kandungan
39 minggu, dokter kandungan saya mengecek posisi janin yang semestinya sudah
turun dan mengunci di panggul, saat itu masih jauh di atas panggul. “Ah ini sih
masih lama. Nanti cek 40 minggu semoga air ketuban masih bagus jadi gak perlu
induksi,” katanya.
Saya sempat merasa down, selama ini yang saya lakukan masa
tidak ada hasilnya? Bukan ga mau sabar
nunggu, tapi ibu saya sudah jauh- jauh datang dari Bandar Lampung, sudah
di sini selama 2 minggu dan sudah mulai gak sabar menanti kapan cucunya lahir.
Itu salah satu yang jadi kegalauan saya kala itu, haha.
Tapi ternyata proses kelahiran itu memang tak ada ilmu
pastinya. Tidak ada patokan bayi pasti lahir pas HPL, proses bukaan pasti
berapa jam, janin belum masuk panggul pasti masih lama lahirnya. Dua hari kemudian, tanda- tanda persalinan itu muncul.
Sabtu, 9 April 2016. Usia kandungan 39W2D.
Pagi, yoga seperti biasa.
Siang, ikut suami ke bazar kantor, masih belum terasa mulas,
masih cengar cengir juga ditanya orang- orang kapan lahiran :D
Malam, mulai terasa perut kencang dan kram. Belum curiga kalau
itu gelombang cinta karena selama ini belum pernah merasa kontraksi palsu. Tapi
masih dibawa jalan ke mall.
Jam 21.00, entah kenapa kepingin sekali makan duren. (entah
benar atau ga, ini mungkin salah satu induksi alami yang berhasil buat saya).
Jam 22.00 gelombang cinta makin intens. Dibawa yoga,
streching2 ringan, rebozo, dan maenan Gym ball.
Jam 24.00 mencoba tidur tapi gak bisa. Dengerin aplikasi
Kontraksi Nyaman dari bidan Yessi Aprilia.
Minggu 10 April 2016
Jam 02.00, Mulas makin menjadi- jadi. Bangunin suami, dia
bilang besok aja ke RSnya, paling juga masih bukaan 2, nanti disuruh balik
lagi. Kenapa dia bisa bilang gitu? Karena saya belum keluar lendir darah yang
menjadi salah satu tanda persalinan.
03.00, makin ga tahan di kasur, bergerak sesering mungkin,
mandi, dengerin musik biar rileks.
03.30 Seiring mules yang makin aduhai, darah mengalir deras.
Langsung bangunin suami dan ibu saya, langsung ke rumah sakit. Karena Ibu saya belum siap2, dia bilang nanti saja dia nyusul. Toh, katanya, biasanya pasti masih lama.
04.30 di UGD RS, ternyata sudah bukaan 5, diajak dansa sama suami. Lumayan bikin
rileks.
05.00 Proses CTG di ruang observasi. Masih bisa ngobrol
bercanda dengan bidannya. “Pantes masih bisa tenang, sering yoga dan ikut kelas
hypnobirthing ya,”
-->Saat itu hari minggu pagi, suasana ruang bersalin sangat tenang, cuma ada saya, suami dan 2 bidan, ga ada pasien lain yang jerit2 dan teriak2, persis seperti apa yang saya visualisasikan sebelumnya.
06.30 Bukaan lengkap, dokter datang.
06.58 Alhamdulillah lahirlah putri cantik kami “Kaia
Alleandra Bimastianto", dengan penuh senyum dan kelembutan. Saking ga nyangka akan secepat itu, barang- barang di
mobil bahkan baru diturunin pas saya sudah bukaan lengkap! ;)
Nah kan, ternyata proses lahiran memang rahasia Yang di
Atas. Ga ada patokan pasti bahkan dari
dokter sekali pun. Tinggal gimana kita mau memberdayakan diri dan memasrahkan
diri ketika semua usaha sudah kita lakukan. Proses persalinan yang nyaman ini
semua bisa saya dapatkan karena keingintahuan saya selama hamil, dan kemauan
saya memberdayakan diri untuk mendapatkan itu :) .
Yakin cuma mau sekali dalam seumur hidup hehehehe #palagrafpertama nikah aja yg sekali seumur hidup melahirkan mah jangan kalo bisa 4 kali hehehehehe
ReplyDeleteWakakakak maksudnya sekali seumur hidupnya bayi ���� Kalau emaknya mah mau berkali2 �� Aduh bahasaku yaaa ambigu sekali. Maklum bukan penulis ��
ReplyDeleteMbaa noni berarti masi sekali lg ni (^.^)(^~^)
ReplyDelete